Jumat, 10 Februari 2012

Makalah TES URAIAN

TES URAIAN

Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia








Dosen Pengampu
Prof. Dr. Hj. Ratu Wardarita, M.Pd
Dr. Aji Sarni, M.Pd


logo pascasarjana

 Oleh:
Puthut Gunawan














PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
TAHUN 2011
              

I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Evaluasi menjadi hal yang penting dan harus diperhitungkan oleh pendidik dalam menilai kemampuan peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Penilaian adalah kegiatan yang tidak mungkin dipisahkan dari kegiatan pendidikan dan pengajaran secara umum. Semua kegiatan pendidikan yang dilakukan harus selalu diikuti atau disertai dengan kegiatan penilaian.  Pada hakikatnya penilaian yang dilakukan tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar siswa saja, melainkan juga berbagai faktor lain, antara lain  kegiatan pengajaran yang dilakukan itu sendiri.
Tes sebagai alat pengukur hasil belajar siswa, diharapkan mampu memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Artinya, alat tes dapat memberikan informasi tentang siswa sesuai keadaan yang mendekati sesungguhnya. Hal itu penting karena informasi tersebut akan dipergunakan untuk mempertimbangkan dan kemudian memutuskan berbagai kebijakan baik yang berkenaan dengan siswa maupun kegiatan pengajaran secara umum. Sebuah alat tes yang baik harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, antara lain alat tes haruslah tidak terlalu mudah atau terlalu sulit. Alat tes yang baik harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi kelayakan, kesahihan, keterpercayaan,  dan kepraktisan (Nurgiyantoro, 2001:98).
Format soal tes bahasa dapat berbentuk tes objektif dan tes subjektif yang salah satu bentuknya adalah tes bentuk uraian. Jika dalam menyusun  tes objektif harus mengikuti berbagai langkah dan prosedur yang ketat, maka sudah barang tentu untuk menyusun tes bentuk uraian pun harus mengikuti prinsip-prinsip pengukuran yang baik dan benar pula.
Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa pencapaian kualitas atau mutu soal bentuk uraian itu lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan soal berbentuk tes objektif, sebab tidak usah terlalu mengikuti berbagai  aturan sebagaimana penyusunan soal berbentuk tes objektif.
Cara mengoreksinya juga tidak usah repot, baca saja lembar jawaban dan diberi skor secara global, sesuai dengan perkiraan dan kepantasan. Kualitas soal tidak usah terlalu dipikirkan, asal sudah sesuai dengan materi yang di buku pegangan, sudah cukup. Yang menjadi pertanyaan adalah benarkah pendapat yang demikian itu? Kalau tidak benar, lalu bagaimanakah cara yang tepat untuk memperoleh soal tes bentuk uraian yang berkualitas? Uraian dalam makalah ini mencoba membahas tentang uapaya membuat soal tes bentuk uraian yang berkualitas dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

1.2 Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah:
1)   Bagaimanakah karakteristik tes uraian?
2)   Bagaimanakah langkah-langkah menyusun tes uraian?
3)   Bagaimanakah penskoran tes bentuk uraian?

1.3 Tujuan
Bertolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui konsep dasar tes bentuk uraian, langkah-langkah menyusun tes uraian, dan penyekoran tes bentuk uraian, serta sebagai bahan presentasi pada mata kuliah Evaluasi Pengajaran pada Program Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.










II. PEMBAHASAN

2.1  Karakteristik  Tes Bentuk Uraian
Tes hasil belajar adalah salah satun alat ukur yang paling banyak digunakan untuk mengetahui hasil belajar seseorang dalam proses belajar-mengajar atau suatu program pendidikan. Karena sedemikian banyak tes itu digunakan dalam dunia pendidikan, maka ada baiknya seorang guru sebagai salah satu pihak yang berwenang menyusun tes hasil belajar, hendaknya mengetahui karakteristik berbagai bentuk tes sebagai alat ukur hasil belajar.
Hopkins melalui Suyata (1997:18) menjelaskan bahwa penyusunan tes adalah “lebih pada seni daripada ilmu” dan seni menyusun tes dapat dipelajari lewat petunjuk-petunjuk yang jelas, praktek penyusunan yang terus menerus, serta umpan balik dari apa yang disusunnya.

2.1.1 Pengertian Tes Bentuk Uraian
Tes uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes secara naratif. Ciri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi disusun oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Soal uraian adalah soal yang jawabannya menuntut peserta tes untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan gagasan atau pokok pikiran  tersebut dalam bentuk tulisan.  
Djiwandono (2008: 57) menjelaskan bahwasanya secara lebih khusus tes uraian (tes esai) mengacu pada tes yang jawabannya berupa suatu esai atau uraian dalam berbagai gaya penulisan, seperti diskriptif dan argumentatif, sesuai dengan permasalahan yang menjadi pokok bahasan.


Salah satu pertimbangan dalam  menggunakan salah satu bentuk tes, apakah tes subyektif atau tes objektif, maka perlu dipahami  terlebih dulu keunggulan dan kelemahan bentuk tes tersebut. Jika telah menentukan pilihan untuk menggunakan salah satu bentuk tes tersebut maka salah satu kiat dalam seni membuat soal tes adalah memaksimalkan  keunggulan tes tersebut dan menekan seminimal mungkin kelemahan-kelemahan dari soal bentuk tersebut.
Bentuk tes uraian dapat diklasifikasi ke dalam dua tipe yaitu tes uraian bebas (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). Pembedaan kedua tipe tes uraian ini adalah atas dasar besarnya kebebasan yang yang diberikan kepada peserta tes untuk mengorganisasikan, menulis dan menyatakan pikiran, tingkat pemahaman terhadap pokok permasalahan dan gagasannya.
           Sebagaimana telah dikemukakan, perbedaan utama antara tes uraian bebas dan uraian terbatas tergantung kepada kebebasan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan oleh peserta tes dalam tes uraian bebas hampir-hampir tidak ada pembatasan. Peserta tes memiliki kebebasan yang luas sekali untuk mengorganisasikan dan mengekspresikan pikiran dan gagasannya dalam menjawab soal tersebut. Jadi jawaban siswa bersifat terbuka, fleksibel, dan tidak tersrtuktur.

2.1.2 Keunggulan dan Kelemahan Tes Bentuk Uraian
Sarimanah dalam http://eri-s-unpak.blogspot.com/2009/03/konsep-dasar-tes-dan-pengukuran-hasil.html menjelaskan bahwa tes uraian memiliki beberapa keunggulan, jika dibandingkan dengan tes objektif antara lain:
1) Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks. Hasil belajar yang kompleks artinya hasil belajar yang tidak sederhana. Hasil belajar yang kompleks tidak hanya membedakan yang benar dari yang salah, tetapi juga dapat mengekspresikan pemikiran peserta tes serta pemilihan kata yang dapat memberi arti yang spesifik pada suatu pemahaman tertentu. Apabila yang diukur adalah kemampuan hasil belajar yang sederhana, yaitu memilih suatu yang lebih benar atau yang lebih tepat, maka sebaiknya menggunakan tes objektif.
2) Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan mengintegrasikan berbagi buah pikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan taat asas, maka kemampuan tidak terlihat secara utuh. Bahkan kemampuan itu secara sederhana sudah akan dapat kelihatan dengan jelas dalam pemilihan kata, penyusunan kalimat, penggunaan tanda baca, penyusunan paragraf dan susunan rangkain paragraf dalam suatu keutuhan pikiran.
3) Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri, sesuai dengan sifat tes uraian yang menuntut kemampuan siswa untuk mengekspresikan jawaban dalam kata-kata sendiri. Untuk dapat mengekspresikan pemahaman dan penguasaan bahan dalam jawaban tes, maka bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan secara utuh. Penguasaan bahan yang tanggung atau parsial dapat dideteksi dengan mudah. Karena itu untuk menjawab tes uraian dengan baik peserta tes akan berusaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan diujikan dalam tes secara tuntas. Seorang peserta tes yang mengerjakan tes uraian dengan penguasaan bahan parsial akan tidak mampu menjawab soal dengan benar atau akan berusaha dengan cara membual.
4) Kelebihan lain tes uraian ialah memudahkan guru untuk menyusun butir soal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama, jumlah butir soal tidak perlu banyak dan kedua, guru tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar sehingga akan sangat menghemat waktu konstruksi soal. Tetapi hal ini tidak berarti butir soal uraian dapat dikontruksikan secara asal-asalan. Kaidah penyusunan tes uraian tidaklah lebih sederhana dari kaidah penyusunan tes objektif.
5) Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal ini merupakan kebaikan sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif tes uraian akan sangat mendorong siswa dan guru untuk belajar dan mengajar, serta menyatakan pikiran secara tertulis.
Dengan demikian diharapkan kemampuan para peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Tetapi dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes uraian yang sangat menekankan kepada kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan yang dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak reliable. Bagi siswa yang tidak mempunyai kemampuan menulis, akan menjadi beban.

Namun demikian tes uraian mempunyai kelemahan antara lain:
1) Reliabilitasnya rendah artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang paralel yang diuji ulang beberapa kali. Ada tiga hal yang menyebabkan tes uraian realibilitasnya rendah yaitu pertama keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Kedua, batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Ketiga, subjektifitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes.
2) Untuk menyelesaikan tes uraian guru dan siswa membutuhkan waktu yang relatif banyak.
3) Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai bualan-bualan.
4) Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.
5)  Sering terjadi hallo effect, carry over effect, dan order effect.

2.1.3 Penggunaan Tes Bentuk Uraian
Sebagaimana disebutkan di atas, bahwasannya secara umum ada dua jenis tes yang memiliki karakteristik sangat berbeda yakni tes obyektif dan tes subyektif. Kapan kedua jenis tes itu dipergunakan akan bergantung pada tujuan soal tes itu dibuat.
            Soal-soal yang bertujuan mengungkap kognitif tingkat rendah, seperti ingatan pemahaman dan aplikasi, maka sesuai menggunakan tes obyektif. Akan tetapi, hal yang sama tidak berlaku untuk soal-soal yang lebih komplek dan dengan tujuan mengungkap kognitif tinggi, seperti analisis, sintesis, dan evaluasi (Suyata, 1997:19).
Sebaiknya tes uraian digunakan apabila :
1) Jumlah siswa atau peserta tes relatif sedikit.
2) Waktu yang dipunyai guru untuk mempersiapkan soal relatif singkat dan    
    terbatas.
3) Tujuan instruksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan dengan baik, atau penggunaan kemampuan penggunaan bahasa secara tertib.
4) Guru ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis secara langsung di dalam soal ujian tetapi dapat disimpulkan dari tulisan peserta tes, seperti : sikap, nilai, atau pendapat. Soal uraian dapat digunakan untuk memperoleh informasi langsung tersebut, tetapi harus digunakan dengan sangat hati-hati oleh guru.
5) Guru ingin memperoleh hasil pengalaman belajar siswanya.

2.2 Langkah-Langkah Menyusun Tes Uraian
Sebenarnya menyususn tes uraian tidak semudah yang diperkirakan banyak orang, kalau benar-benar  ingin menghasilkan butir soal yang berkualitas. Ada beberapa ketentuan yang perlu diikuti dan dipenuhi. Pemilihan format tes uraian menjadi pertimbangan lagi apabila mengingat betapa tidak mudahnya pemberian skor dengan prinsip pengukuran yang benar. Berikut adalah rambu-rambu bagaimana menyusun tes uraian dengan memenuhi kriteria dan prinsip-prinsip pengukuran.

2.2.1 Penentuan Tujuan Tes
Suyata  (1997:19) menguraikan bahwa tes yang baik perlu direncanakan dengan hati-hati dan teliti. Petunjuk yang biasa diberikan untuk itu adalah sesuaikan tes yang disusun dengan tujuan kurikulum, bukan pada apa yang tertulis, melainkan pada apa yang dipelajari. Perhatikan tujuan diadakan tes tersebut,seperti untuk melihat perbedaan individu, atau untuk penguasaan kelas akan materi yang dipelajari, serta sesuaikan tes dengan tingkat kemampuan siswa.
Tujuan tes perlu dinyatakan secara eksplisit dan jelas, agar tes benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Dikatakan demikian karena tes yang berkualitas dituntut memenuhi syarat validitas dan reliabilitas.
Yang perlu diperhatikan, jangan sampai terjadi tes uraian prestasi belajar dipakai untuk mengukur kemampuan menulis atau sebaliknya alat ukur untuk kemampuan menulis dipakai untuk mengukur prestasi belajar (Suyata, 1997:20).

2.2.2 Penyusunan Kisi-Kisi Tes Dengan Cermat
            Kisi-kisi adalah suatu format berupa matrik yang memuat pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi suatu tes (Ninik dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2105619-kaidah-penyusunan-soal-ulangan-uraian).
            Suyata  (1997:20) menguraikan bahwa kisi-kisi ujian adalah suatu format yang berisi kriteria tentang soal-soal yang diperlukan oleh suatu tes. Oleh karena tidak semua penyusun kisi-kisi adalah penulis soal, maka komponen kisi-kisi perlu jelas dan mudah dipahami agar penulisan soal dapat dilaksanakan. Dengan adanya kisi-kisi, penulis soal yang berbeda, dengan kualitas yang relatif sama, diharapkan menghasilkan soal yang relatif sama, baik tingkat kedalamannya maupun cakupan materi yang dibahas.
            Menurut Balitbang Depdikbud dikutip Suyata  (1997:21) kisi-kisi yang baik harus memenuhi kriteria diantaranya (1) dapat mewakili isi kurikulum secara tepat, (2) komponen-komponen jelas dan mudah dipahami, (3) dapat dilaksanakan atau disusun soalnya.
Ninik dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2105619-kaidah-penyusunan-soal-ulangan-uraian) menjelaskan bahwa kisi-kisi tes prestasi belajar harus memenuhi persyaratan, yaitu: mewakili isi kurikulum/kemampuan yang akan diujikan; komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami; dan soal-soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang ditetapkan.
Secara umum komponen-komponen yang biasa dimuat dalam penyusunan kisi-kisi tes prestasi belajar adalah sebagai berikut: (1) jenis sekolah/jenjang sekolah, (2) tingkat sekolah, (3) bidang Studi / mata pelajaran, (4) tahun pelajaran, (5) kurikulum yang diacu/ dipergunakan, (6) jumlah soal, (7) bentuk soal, (8) standar kompetensi , (9) kompetensi dasar, (10) materi yang akan diujikan/dijadikan soal, (11) indikator, (12) nomor urut soal (jika diperlukan).
Suyata  (1997:21) menjelaskan bahwa komponen yang terdapat pada sebuah kisi-kisi bermacam-macam, bergantung pada model tesnya. Tes bahasa komunikatif Carroll misalnya, berisi (1) tujuan kegiatan, (2) kompetensi, (3) saluran, (4) lingkup, (5)jumlah soal, (6) format tes.
Contoh kisi- kisi tes uraian model Carroll.
Tujuan

Kompetensi

Saluran
Lingkup
Jumlah Soal
Format Tes
Memperoleh informasi lewat bahasa tulis
Membaca
Bahan tertulis
-Isi pokok
- Isi tambahan
-Pemahaman   
  faktual
-Pemahaman    inferensia
5
Tes uraian

          Weir dikutip Suyata (1997:21) mengembangkan model kisi-kisi tes bahasa komunikatif yang lain, meskipun 1997:21tekanannya sama, yaitu pada isi materi. Ada empat macam-macam kisi-kisi yang dikembangkan, yaitu kisi-kisi untuk keterampilan membaca, berbicara, menulis, dan menyimak. Kisi-kisi untuk keterampilan membaca misalnya, terdiri atas empat komponen, yaitu (1) tingkat keterampilan, (2) pengoperasian isi materi, (3) tipe teks dan topik, (4) format tes.
2.2.3  Penulisan Butir Soal
            Setelah kisi-kisi disiapkan, tahap selanjutnya adalah menulis butir soal. Sebelum penulisan soal dilakukan, penulis perlu memperhatikan batasan jawaban soal, seperti kedalaman, ruang lingkup soal, serta jumlah rincian. Penentuan jawaban soal tersebut penting sebab secara langsung akan berkaitan dengan perumusan butir soal yang akan ditulis. Butir soal yang terlalu luas atau terlalu sempit perlu dihindari sebab akan menyulitkan dalam pemberian skor.



            Hopkins melalui Suyata (1997:22) memberikan rambu-rambu untuk menulis butir soal tes bahasa bentuk uraian, yaitu sebagai berikut:
1) Soal  ditulis sedemikian rupa sehingga soal menjadi spesifik dan dapat   
    ditangkap dengan jelas oleh peserta ujian.    
2) Pertanyaan uraian diawali dengan kata-kata bandingkan, berilah alasan, atau jelaskan, dan hendaknya menghindari kata-kata seperti apa, kapan, atau siapa pada awal soal, sebab hanya akan memancing jawaban yang berupa reproduksi informasi belaka.
3) Beberapa butir soal dengan jawaban relatif pendek-pendek lebih baik daripada satu soal tetapi memerlukan jawaban panjang. Hal ini berkaitan dengan masalah reliabilitas tes, yang makin banyak jumlah soal, makin tinggi koefisien reliabilitas soal tersebut.
4) Disarankan untuk tidak menulis butir soal bentuk pilihan pada soal tes uraian, kecuali penulis soal dapat memberikan bobot skor yang sama pada soal-soal yang diberikan.
5) Soal disusun secara berseri dari yang sederhana sampai ke yang kompleks, dari soal yang relatif mudah, makin lama makin sulit, dan diakhiri dengan soal yang paling sulit, yaitu soal evaluasi.
            Selain rambu-rambu tersebut di atas, Pusat Penelitian Sistem Pengujian dikutip Suyata (1997:22) menambahkan perlunya rumusan soal tes uraian yang menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian, seperti mengapa, jelaskan, uraikan, tafsirkan, dan sebagainya, serta rumusan soal tes uraian perlu menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai kaidah bahasa yang berlaku.

2.2.4  Penelaahan Soal Tes Uraian
              Soal yang telah selesai ditulis perlu ditelaah kembali. Tujuan kegiatan adalah untuk melihat dan mengkaji setiap butir soal agar menghasilkan soal dengan kualitas yang baik, sebelum soal tersebut digunakan dalam suatu perangkat tes. Penelaahan butir soal dilakukan dengan cara menyesuaikan butir soal dengan kisi-kisi tes, kurikulum, atau buku sumber. Langkah ini juga dimaksudkan untuk menjaga validitas isi tes.
              Telaah soal yang dilakukan berupa  telaah materi dan telaah bahasa. Telaah materi dimaksudkan untuk melihat kesesuaian antara materi yang telah diajarkan, tertera dalam kisi-kisi, dengan soal yang ditulis. Sedangkan telaah bahasa maksudnya untuk melihat kejelasan, kebenaran, dan ketepatan bahasa yang digunakan agar soal yang ditulis dapat dipahami oleh peserta didik sebagaimana dimaksudkan oleh pembuat soal.
              Kegiatan penelaahan soal ini dapat dilakukan oleh penulis soal sendiri maupun dilakukan oleh orang lain yang bukan penulisnya.

2.3 Penskoran Tes Uraian
              Dari beberapa jenis tes subyektif, tes uraian merupakan jenis tes yang paling tinggi tingkat subyektivitasnya, karena jawabannya yang relatif panjang, beragam isi dan kemasannya.
              Djiwandono (2008: 59) menjelaskan bahwasanya penskoran tes subyektif dalam bentuk esei tidak dilakukan dengan menggunakan kunci jawaban seperti pada penskoran tes obyektif, melainkan dengan menggunakan rambu-rambu penskoran (scoring guide), yang memuat pedoman, kadang-kadang sekadar kriteria, yang menyebutkan jawaban yang diharapkan dalam hal relevansi isi, susunan, bahasa yang digunakan termasuk ejaan, bahkan panjang dan pendeknya jawaban, dan lain-lain. Kadang-kadang disertai proporsi skor yang disediakan bagi masing-masing unsur berdasarkan tingkat pentingnya suatu unsur yang diskor.
              Kriteria penskoran tes esei secara analitik:
1) Relevansi  isi jawaban peserta tes dengan jawaban yang diharapkan.
2) Kecukupan isi jawaban peserta  tes  tentang masalah yang ditanyakan.
3) Kerapian dan kejelasan penyusunan isi jawaban peserta tes.
4) Lain-lain yang perlu dan relevan dengan bidang kajian dan titik berat sasaran tes (dengan uraian dan rinciannya), misalnya penggunaan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti.


              Djiwandono (2008: 6) menjelaskan dengan memberikan contoh rincian kriteria dengan tingkatan ketercapaian kriteria dan alokasi skor pada tes esei. Seandaianya semua kriteria itu diperlakukan sama berat tanpa pembobotan, dan dengan contoh rentangan skor 4, 3, 2, 1 yang menunjukkan tingkat ketercapaian kriteria yang menggambarkan tingkat mutu esei, maka rincian kriteria itu seperti pada contoh berikut.
NO
KRITERIA
RINCIAN TINGKAT KETERCAPAIAN KRITERIA
SKOR
1
Relevansi isi
Isi sepenuhnya sesuai dengan pertanyaan
4
Isi sebagian besar sesuai dengan pertanyaan
3
Isi sedikit sesuai dengan pertanyaan
2
Isi jawaban tidak  sesuai dengan pertanyaan
1
2
Ketuntasan
Jawaban tuntas
4
Jawaban hampir tuntas
3
Jawaban kurang  tuntas
2
Jawaban jauh dari tuntas
1
3
pengorganisasian
Amat sistematis
4
Mendekati sistematis
3
sedikit sistematis
2
Tidak  sistematis
1

              Jika penskoran dilakukan tanpa pembobotan dalam arti bahwa semua kriteria dianggap sama berat dan dialokasikan rentangan skor yang sama, maka skor jawaban esei seorang peserta tes diperoleh dengan menjumlahkan skor-skor yang diperolehnya. Jika penskoran dilakukan dengan pembobotan, maka bobot masing-masing kriteria perlu ditentukan berdasarkan pentingnya berbagai komponen kemampuan dalam melakukan pekerjaan yang ditugaskan.
           Suyata (1997:23) menguraikan beberapa cara yang dapat dilakukan berkaitan dengan kegiatan penskoran tersebut:



1) Model Jawaban
            Sebelum memulai pemberian skor dalam tes uraian, pengoreksian ujian perlu membuat contoh jawaban benar untuk setiap butir soal sebagai model. Dengan model tersebut, penskoran akan berjalan relatif sesuai dengan ukuran yang sama, berlaku untuk setiap jawaban pada soal yang sama. Hal ini akan lebih menyingkat waktu dan meningkatkan akurasi penskoran.
2) Penskoran Keseluruhan dan Bagian demi Bagian       
            Penskoran keseluruhan adalah cara penskoran yang tidak dibagi-bagi atas elemen-elemen. Jawaban ujian dibaca secara keseluruhan, kemudian ditentukan jumlah skor untuk setiap butir soal. Kriteria penskoran dibuat bertingkat, seperti sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang.
            Cara penskoran yang lain adalah bagian demi bagian. Hal ini lebih dianjurkan sebab penskoran akan relatif lebih teliti. Dengan menyusun daftar poin-poin penting dalam setiap jawaban.
3) Satu Butir untuk Seluruh Peserta
            Jawaban hendaknya dibaca tiap butir untuk seluruh peserta tes, agar reliabilitas skor dapat dipertahankan.
4) Buat Poin-Poin Penting untuk Setiap Jawaban Soal
Agar penskoran dapat dilakukan dengan lebih obyektif, untuk setiap soal perlu dibuat daftar poin-poin penting yang perlu ada.













III. SIMPULAN

Prestasi  belajar memiliki arti yang penting dan sangat strategis dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, sehingga sangat diperlukan alat ukur yang berkualitas pula untuk memantau dan menjaga agar prestasi belajar senantiasa mengalami peningkatan mutu, yang salah satu bentuknya adalah tes uraian.
            Tes uraian memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan jenis bentuk yang lain, oleh karena itu dalam rangka membuat tes uraian yang bermutu, pendidik dalam hal ini diharapkan memahami betul karakteristik tersebut, termasuk mengetahui keunggulan dan kelemahan tes uraian, teknis penyusunannya,  sehingga akan dapat membuat tes uraian yang sesuai dengan harapan.
            Langkah-langkah menyusun tes uraian dan tahap-tahap penyusunannya mulai dari menentukan tujuan, pembuatan kisi-kisi, penulisan butir soal, hingga penelaahan soal perlu dilaksanakan secara urut dan cermat untuk menjaga agar tes yang dihasilkan menjadi akurat dan baik.
            Penskoran tes bentuk uraian membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang khusus dan relatif banyak jika dibandingkan dengan penskoran jenis tes yang obyektif. Oleh karena itu perlu sekali diperhatikan teknik dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan penskoran, agar tes uraian yang dilaksanakan dapat berjalan sebagaimana tujuan yang diinginkan.







DAFTAR PUSTAKA


Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
            Yogyakarta: BPFE.

Djiwandono, Soenardi. 2008. Tes Bahasa (Pegangan bagi Pengajar   
            Bahasa).Jakarta: PT Indeks.

Suyata, Pujiati. 1997. Tes Bahasa Bentuk Uraian (Upaya ke Arah Kualitas   
            Soal).Jakarta.Jurnal Cakrawala Pendidikan No.2 Tahun XVI.
Sarimanah , Eri.2009. Konsep Dasar Tes Dan Pengukuran Hasil Belajar.
http://eri-s-unpak.blogspot.com/2009/03/konsep-dasar-tes-dan-pengukuran-hasil.html, diakses 30 Oktober 2011.

Ninik,S.2010. Kaidah Penyusunan Soal Ulangan Uraian dan Pilihan Ganda.
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2105619-kaidah-penyusunan-soal-ulangan-uraian) diakses 30 Oktober 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar