Jumat, 10 Februari 2012

Makalah Kajian Sastra

I.      PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
        Karya sastra merupakan hasil karya manusia dengan mendayagunakan imajinasi yang terdapat dalam diri pengarangnya. Keberadaan karya sastra dalam kehidupan manusia akan dapat mengisi “kedahagaan jiwa” karena membaca karya sastra bukan saja dapat memberikan hiburan, juga akan dapat memberikan “pencerahan jiwa” karena nilai-nilai yang dapat dipetik sesudah membaca dan merenunginya lebih lanjut. Dengan kata lain, karya sastra akan dapat memberikan hiburan dan manfaat. Dengan membaca karya sastra, kita akan sejenak dapat mengalihkan duka dan mengikuti jalan cerita, keindahan, dan keluwesan bahasa yang ditampilkan pengarang. Manfaat karya sastra diperoleh melalui nilai-nilai tersirat, dibalik jalinan cerita yang disampaikan oleh pengarang. Dengan membaca karya sastra, nilai-nilai tertentu akan meresap secara tidak langsung dibalik alur atau jalinan cerita yang secara apik ditampilkan.
        Sastra merupakan refleksi pengalaman kemanusiaan yang diolah dengan ramuan imajinasi dan keluwesan penyampaian melalui bahasa yang digunakan. Dalam kehidupannya manusia adalah para “aktor” yang melaksanakan perannya masing-masing. Hiruk pikuk kehidupan membuat sebagian manusia terkadang tidak sempat lagi melakukan perenungan. Dengan aktivitas yang demikian padat karena tuntutan kebutuhan yang semakin tinggi, dapat membuat manusia tidak sempat lagi memikirkan  hal-hal yang menjadi nilai dalam kehidupannya dan meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya.  Leslie Strata dalam Wardani (1981:2) mengatakan bahwa sastra sebagai pengalaman kemanusiaan dapat disumbangkan untuk bahan perenungan.
Prosa adalah salah satu bentuk sastra, yang tidak terikat oleh ikatan baris dan bait seperti halnya puisi. Dalam prosa, pengarang lebih banyak memiliki keleluasaan pengungkapan. Oleh karena itu, prosa sering digolongkan sebagai karangan bebas.
Prosa sastra dapat dibagi atas prosa fiksi dan nonfiksi. Prosa fiksi terdiri atas dongeng, novel, dan cerpen. Pada zaman sekarang novel dan cerpen adalah bentuk prosa fiksi yang cukup populer. Dongeng sebagian masih diminati baik untuk meneruskan tradisi, maupun karena kandungan nilai di dalamnya. Novel dan cerpen mempunyai sejumlah karakteristik yang memberi corak masing-masing pada kedua bentuk prosa tersebut.

Dalam makalah ini nantinya akan dibahas pengertian prosa fiksi baik secara leksikal melalui kamus atau menurut pendapat para ahli. Selain itu, juga akan dijabarkan ragam prosa fiksi sebagai bahan untuk keutuhan pemahaman kita terhadap prosa fiksi tersebut. Secara global dua hal tersebutlah yang menjadi esensi pembahasan makalah ini.

B.     Perumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apakah hakikat dari prosa fiksi itu?
2.      Bagaimanakah ragam prosa fiksi itu?

C.    Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan dan memahami hal berikut:
1.      hakikat prosa fiksi,
2.      ragam prosa fiksi.

II.    PEMBAHASAN
A.    Hakikat Prosa Fiksi
Sebelum kita dapat menjelaskan hakikat prosa fiksi, mungkin pembahasannya akan menjadi lebih baik apabila dimulai dari pengertian prosa. Terkait dengan itu, kami telah menemukan pengertian prosa dari berbagai sumber. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh kaidah seperti yang terdapat dalam puisi.  Pengertian yang lebih lengkap dikemukakan oleh Suprapto (1991: 64), yang mengatakan bahwa prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh ikatan yang terdapat dalam puisi seperti matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Kemudian, Syamsir Arifin dalam Kamus Sastra Indonesia mengatakan bahwa prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh bait, banyak baris dalam satu bait, banyak suku kata dalam satu baris , dan tidak terikat oleh sajak.


Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa prosa adalah karangan bebas yang memiliki bentuk pengungkapan tidak terikat. Bentuk pengungkapan prosa dalah kebalikan dari bentuk pengungkapan puisi yang tidak terikat misalnya dengan adanya: matra, rima (sajak), larik (baris), dan bait.
Kemudian, apakah prosa itu hanya berupa karya sastra? Kosasih (2008:2) mengatakan bahwa prosa tidak hanya terbatas pada tulisan yang berupa karya sastra. Ia mengklasifikasikan prosa atas prosa nonsastra dan prosa sastra. Yang termasuk prosa nonsastra adalah laporan, makalah, dan artikel. Prosa sastra dibagi atas: prosa fiksi, (dongeng, cerpen, dan novel) dan prosa nonfiksi (biografi, autobografi, dan esai).
Nurgiyantoro (2010:30) mengatakan bahwa fiksi adalah karangan yang mengungkapkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Fiksi dapat dikatakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Pengertian ini nampaknya menekankan pada substansi dan proses kelahiran fiksi. Kemudian, Atar Semi (1988: 31) mengatakan bahwa fiksi adalah cerita rekaan dalam bentuk prosa sebagai hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, dan penilaiannya tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atau hanya berlangsung dalam hayalan pengarang.
Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa fiksi adakan cerita rekaan yang dibuat berdasarkan pandangan, penafsiran, perenungan, dialog, dan reaksi pengarang, terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atau hal yang hanya berlangsung dalam alam imajinasi pengarangnya.
Berdasarkan pengertian prosa dan fiksi di atas, prosa fiksi dapat diartikan sebagai karangan bebas berupa cerita rekaan yang dibuat berdasarkan pandangan, penafsiran perenungan, dialog, dan reaksi pengarang, terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atau hal yang hanya berlangsung dalam alam imajinasi pengarangnya.
Prosa fiksi sebagai salah satu genre sastra mengandung unsur-unsur yang meliputi: pengarang, isi penciptaan, media penyampai (bahasa), dan elemen-elemen fiksional (unsur intrinsik dan ekstrinsik). Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra (dari dalam) misalnya: tema, amanat, alur, penokohan, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur pembangun yang berasaldari luar sastra misalnya: kebudayaan, sosial, agama, psikologi, politik, dsb. (Aminuddin, 2002:66).



B.     Ragam Prosa Fiksi

Kosasih (2008:51) menbagi prosa fiksi atas: dongeng, cerpen, dan novel. Di bawah ini adalah penjelasan  satu per satu masing-masing ragam prosa fiksi tersebut.

1.      Dongeng
Dongeng merupakan salah satu warisan nenek moyang kita. Pada zaman dahulu dongeng disampaikan secara lisan, tidak melalui buku atau media elektronik seperti yang umumnya kita nikmati pada masa ini. Misalnya para orang tua sering menyampaikan dongeng kepada anaknya sebagai pengantar tidur. Dongeng yang diceritakan itu sebenarnya adalah warisan dari generasi sebelumnya. Dengan demikian, penyampaiannya secara turun temurun dan dari mulut ke mulut (lisan). Selain itu, pada zaman dahulu ada juga dongeng yang sengaja disampaikan melalui pelipur lara. Sesuai dengan namanya, penglipur lara bertugas menghibur orang lain melalui dongeng-dongeng yang disampaikannya.
Apakah yang dimaksud dongeng itu? Syamsir dalam Kamus Sastra Indonesia (1991:36) mengatakan bahwa dongeng adalah cerita khayal. Dongeng termasuk dalam hasil sastra lama yang menceritakan makhluk halus, asal mula binatang, tumbuh-tumbuhan, atau benda-benda lain yang tidak masuk akal. Jin, hantu, setan, dan tukang sihir adalah bumbu utama bagi sebuah dongeng. Kemudian, Kosasih (2008:52) mengatakan bahwa dongeng adalah cerita yang dibumbui dengan hal-hal yang tidak masuk akal atau tidak mungkin terjadi dalam dunia kenyataan. Dengan kata lain, kami menyimpulkan bahwa dongeng adalah cerita khayal yang mengandung hal-hal tidak masuk akal dengan substansi penceritaan yang bermacam-macam misalnya: makhluk halus dengan beragam macamnya, binatang, tumbuh-tumbuhan, atau manusia itu sendiri.
Menurut isinya dongeng dapat digolongkan menjadi sebagai berikut:
a.          Fabel
Adalah dongeng yang mengisahkan kehidupan binatang yang mengandung ibarat atau hikmah bagi pembaca. Pelakunya adalah binatang yang berperan sebagai manusia atau sebaliknya. Contoh fabel adalah Cerita Kancil dan Buaya, Hikayat Kalilah dan Dimnah, Hikayat Burung Bayan, dan Pak Belalang.



b.      Legenda
Adalah cerita-cerita yang dihubungkan dengan keadaan alam atau berkaitan dengan peristiwa terjadinya suatu negri, danau, gunung, dsb. Contoh legenda adalah cerita Malin Kundang dan Cerita Tangkuban Perahu (Sangkuriang).
c.       Myte
Adalah cerita-cerita yang dihubungkan dengan kepercayaan (animisme dan dinamisme) misalnya berkaitan dengan kehidupan dewa-dewa dan mahluk halus. Misalnya Cerita Nyi Roro Kidul, Cerita Mahabrata, dan Cerita Kera Sakti.
d.      Sage
Adalah cerita yang dihubungkan dengan orang-orang sakti, orang-orang sangat berani, dan orang-orang yang dianggap keturunan dewa. Contohnya Hikayat Hang Tuah dan Hikyat Sri Rama. (Abidin, dkk. 1972:25-26).

2.        Novel
Novel termasuk ragam prosa fiksi yang digemari oleh pembaca. Kata novel berasal dari bahasa Italia yaitu “novella” yang berarti “sebuah barang baru yang kecil”. Dalam perkembangannya, novel adalah prosa fiksi yang secara imajinatif mengisahkan sisi utuh problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh dalam kehidupannya, tentunya dalam koridor olahan imajinasi pengarangnya.
Pengertian lain dikemukakan oleh Deti (2005:115), bahwa novel adalah prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya, yang menonjolkan watak dan sifat tokoh-tokohnya. Secara substansial pengetian ini tidak jauh berbeda. Hanya disini ada penjelasan tentang penonjolan watak dan sifat tokoh. Pengungkapannya yang relatif panjang, memungkinkan pengarang untuk melukiskan tokoh secara lebih leluasa termasuk watak dan sifat yang dimilikinya dengan berbagai teknik baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Dari dua pengertian tersebut kami dapat mengambil benang merah pengertian novel. Novel adalah salah satu ragam prosa fiksi yang secara imajinatif mengisahkan kehidupan seseorang dengan orang-orang sekelilingnya atau mengisahkan sisi utuh problematika kehidupan dengan menonjolkan watak dan sifat ysng dimiliki para tokoh.
Beberapa contoh novel adalah Belenggu (Armijn Pane), Atheis (Muchtar Lubis), Pulang (Toha Muhtar), Burung-burung Manyar (YB Mangun Wijaya), Telegram (Putu Wijaya), dan Merahnya Merah (Iwan Simatupang).

Sejalan dengan klasifikasi Kosasih (2008:51) yang membagi prosa fiksi atas dongeng, cerpen, dan novel, makalah ini tidak mencantumkan roman sebagai salah satu ragam prosa fiksi. Atar Semi (1988:32) mengatakan bahwa dalam istilah novel tercakup pengertian roman. Istilah roman dipergunakan pada zaman sebelum perang dunia kedua di Indonesia. Penggunaan istilah roman adalah wajar karena sastrawan Indonesia pada waktu itu umumnya berorientasi ke negeri Belanda, yang lazim menamakan bentuk ini sebagai roman.

3.      Cerpen
Secara selintas hal yang diidentifikasi dengan jelas pada sebuah cerpen adalah wujudnya yang pendek, singkat, atau tidak panjang. Mengenai soal panjang pendeknya ukuran fisik cerpen, Atur semi (1988:34) mengatakan bahwa soal panjang pendeknya ukuran fisik cerpen tidak menjadi ukuran yang mutlak. Cerpen memilih cara penampilan cerita yang pekat dan lebih menampilkan individualitas pengarangnya tanpa harus kehilangan identitas.
Cerita pendek walaupun halamannya relatif pendek (sedikit), namun tetap mengandung keutuhan cerita. Artinya dengan jumlah halaman yang minimal bukan berarti terjadi pemenggalan-pemenggalan prinsipil yang menyebabkan ceritanya seperti terpotong-potong. Oleh karena itu, permasalahan yang digarap tidaklah begitu kompleks, kemudian penokohan, perwatakan, dan latar belakang dilukiskan secara jelas dan mendalam. Dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:210) dikatakan bahwa cerpen memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi.
Dengan demikian, apakah cerpen itu? Deti (2005:117) mengatakan bahwa cerpen adalah karangan pendek berbentuk naratif. Cerpen mengisahkan sepenggal kehidupan manusia yang penuh pertikaian, mengharukan, menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan. Penggunaan kata sepenggal menyiratkan bahwa yang diceritakan dalam cerpen hanyalah cuplikan kehidupan, tidak mungkin menceritakan beragam aspek kehidupan secara mendetail. Kemudian, Syamsir dalam Kamus Sastra Indonesia (1991:30) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita rekaan yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada suatu saat sehingga memberikan kesan tunggal terhadap pertikaian yang mendasari cerita tersebut.
Kesimpulan dari dua pendapat tersebut, cerpen adalah karangan pendek yang menceritakan sepenggal kehidupan manusia dengan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi sehingga memberikan kesan tunggal terhadap pertikaian yang mendasarinya.


Konsekuensi dari pengertian di atas, Kosasih (2008:53) mengatakan cerpen memiliki kesederhanaan dari segi alur, tema, dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan. Tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang dan latar yang dilukiskan hanya sesaat dan dalam lingkungan yang relatif terbatas.
Beberapa contoh cerpen di antaranya Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma (Idrus), Robohnya  Surau Kami (A.A. Navis), Terang Bulan Terang di kali (S.M. Ardan), dan Selendang (Wildan Yatim).

III.   KESIMPULAN
Prosa ternyata tidak hanya berkaitan dengan tulisan yang berupa karya sastra karena prosa dapat diklasifikasikan atas prosa sastra dan nonsastra. Prosa fiksi merupakan bagian dari prosa sastra yang terdiri atas dongeng, novel, dan cerpen.
Banyak ahli sastra yang telah mendefinisikan prosa fiksi.  Satu hal yang patut dicatat bahwa prosa fiksi berbentuk karangan hasil olah imajinasi pengarangnya terhadap peristiwa yang terjadi atau yang ada dalam alam imajinasi belaka. Di sini terkandung pengertian bahwa prosa fiksi belum tentu menceritakan hal-hal rekaan belaka. Yang diceritakan dapat pula berupa hal-hal nyata yang diolah sedemikian rupa dengan imajinasi, penafsiran, dan perenungan dari pengarang.
Dongeng adalah salah satu ragam prosa fiksi yang keberadaannya sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dahulu. Semula dongeng adalah sastra lisan yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai suatu tradisi yang bersifat hiburan sekaligus memberi manfaat. Kelebihan dongeng adalah dibalik hal yang tidak masuk akal, kita akan dapat menemukan nilai-nilai yang bermanfaat atau nilai-nilai yang berguna dalam kehidupan.
Novel adalah salah satu ragam prosa fiksi yang memberi keleluasaan kepada pengarangnya untuk mengungkapkan sisi kehidupan dan problematika kehidupan relatif lebih utuh dengan menonjolkan watak dan perilaku tokoh-tokohnya. Dengan membaca novel, pembaca dapat menikmati sebuah gambaran dan refleksi kehidupan melalui pemeranan yang dilakukan oleh tokoh, yang tentunya tidak terlepas dari kemampuan pengarang menghidupkan dan mendeskripsikan watak tokoh.
Pembicaraan mengenai cerpen dapat mengarah pada wujud fisiknya yang memang relatif singkat (pendek). Namun, pendeknya wujud fisik cerpen pada dasarnya tidak mengurangi keutuhan cerita yang ditampilkan. Tentunya pengarang cerpen dituntut dapat memilih alur, tema, dan amanat yang sederhana dengan tokoh-tokoh yang tidak banyak sehingga dengan bentuknya yang singkat tidak mengurangi keutuhan cerita yang ditampilkan dan pembaca tetap dapat memetik nilai-nilai yang berguna bagi kehidupannya.



























DAFTAR PUSTAKA
 Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Arifin, Syamsir. 1991. Kamus Sastra Indonesia. Padang: Angkasa Raya
Jana, Bakhti, dan Zainal Abidin. 1972. Bahasa Nasional Indonesia.
Palembang: Pustaka Ganesha.

Kosasih, E. 2008. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Nobel Edumedia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Suprapto. 1991. Kumpulan Istilah dan Apresiasi Sastra. Surabaya. Indah.
Semi, M. Attar. 1988. Anatomi Sastra. Padang Angkasa Raya.
Syamrotul Fuadi, Deti. 2005. Bahasa Indonesia: Ringkasan dan Bank Soal.
Bandung: Yrama Widya.

Wardani, I.G.A.K. 1981. Pengajaran Sastra. Jakarta: Proyek Pengembangan
Pendidikan Guru (P3G), Depar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar