Jumat, 10 Februari 2012

Makalah Klausa dan Jenis-jenis Klausa


I. Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Bahasa  adalah fenomena yang menghubungkan dunia makna dan dunia bunyi. Lalu, sebagai penghubung diantara kedua dunia itu, bahasa dibangun oleh tiga buah komponen, yaitu komponen leksikon, komponen gramatika, dan komponen fonologi (Chaer, 2009:1). Sistem gramatika biasanya dibagi atas subsistem morfologi dan subsistem sintaksis. Subsistem sintaksis membicarakan penataan dan pengaturan kata-kata itu kedalam satuan-satuan yang lebih besar, yang disebut satuan-satuan sintaksis, yakni kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana (Chaer, 2009:3).
 Dilihat dari segi bentuknya, kalimat dapat dirumuskan sebagai salah satu konstruksi sintaksis yang terdiri dari dua kata atau lebih. Hubungan struktural antara kata dan kata, atau kelompok kata dengan kelompok kata yang lain berbeda-beda. Antara “kalimat” dan “kata” terdapat dua satuan sintaksis antara, yaitu “klausa”dan “frase”. Klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang mengandung unsur predikasi. Sedangkan frase merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang tidak mengandung unsur predikasi  (Hasan Alwi, 2003:312). Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa klausa berkedudukan sebagai bagian dari suatu kalimat, dan oleh karena itu klausa tidak dapat dipisahkan dari kalimat.
Untuk keperluan  berbahasa sehari-hari yang baik dan benar, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis, dituntut kemampuan untuk  membuat konstruksi kalimat yang baik dan benar pula.  Maka pengetahuan tentang jenis-jenis klausa dan strukturnya  menjadi sangat penting, karena sebuah kalimat merupakan satuan sintaksis yang terdiri dari satu atau lebih klausa.





1.2    Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah:
         1.      Apakah yang dimaksud dengan klausa?
         2.      Apa sajakah jenis-jenis klausa berdasarkan  distribusinya?
         3.      Apa sajakah jenis-jenis klausa berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat?
         4.      Apa sajakah jenis-jenis klausa berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat?

1.3 Tujuan
Bertolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan :
1.  pengertian klausa,
2.  jenis-jenis klausa berdasarkan  distribusinya,
3.  jenis-jenis klausa berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat,
4.  jenis-jenis klausa berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat.

        












II. Pembahasan
2.1  Pengertian klausa
            Klausa adalah satuan sintaksis yang bersifat predikatif. Artinya, didalam satuan atau konstruksi itu terdapat sebuah predikat, bila dalam satuan itu tidak terdapat predikat, maka satuan itu bukan sebuah klausa (Chaer,2009:150).
            Klausa merupakan  satuan gramatik yang terdiri atas subjek dan predikat, baik disertai objek, pelengkap, dan keterangan maupun tidak (Ramlan melalui Sukini, 2010:41). Sedangkan Cook melalui Tarigan (2009:76) memberikan batasan bahwa klausa adalah kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat. Dengan ringkas, klausa ialah S P (O) (PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada (Sukini, 2010:41-42).
            Ramlan melalui Tarigan (2009: 43) menjelaskan bahwa klausa ialah bentuk linguistik yang terdiri dari subjek dan predikat.
            Menurut pendapat Arifin (2008:34) klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa atau gabungan kata itu berpotensi menjadi kalimat.
            Istilah klausa dipakai untuk merujuk pada deretan kata yang paling tidak memiliki subjek dan predikat, tetapi belum memiliki intonasi atau tanda baca tertentu. Istilah kalimat juga mengandung unsur paling tidak memiliki subjek dan predikat, tetapi sudah dibubuhi  intonasi atau tanda baca tertentu.  (Alwi, 2003:39).








            Dari batasan-batasan tersebut dapat diketahui bahwa klausa :
a.       merupakan deretan kata yang merupakan satuan gramatik, satuan sintaksis atau bentuk linguistik,
b.      meliliki hanya satu predikat,
c.       mengandung unsur S P (O) (PEL) (KET),
d.      belum memiliki intonasi akhir atau tanda baca tertentu.
Jadi tidak semua kelompok kata dapat dikatakan sebagai klausa, karena kata yang membentuk konstruksi klausa harus mengandung  ciri-ciri tersebut.

2.2 Pengklasifikasian  Klausa
            Dalam bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam klausa. Berikut dipaparkan jenis-jenis klausa berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.

2.2.1 Bagan klasifikasi klausa (Sukini, 2010:47).


 

Flowchart: Alternate Process: Berdasarkan Kelengkapanun Unsur IntinyaFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  Kategori Pengisi Fungsi PredikatFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  Ada Tidaknya Unsur Negasi pada PredikatFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  DistribusinyaFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan Struktur Internalnya                                                           
                                                                                                                            















 

Flowchart: Alternate Process: 1. Klausa positif
2. Klausa negatifFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa bebas
2. KlausaterikatFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa runtut
2. Klausa inversiFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa lengkap
2. Klausa tak lengkapFlowchart: Alternate Process: Klausa nonverbalFlowchart: Alternate Process: Klausa verbal                                                                                                                                         
                                                                                                                 






 

Flowchart: Alternate Process: 1. Klausa transitif
2. Klausa intransitifFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa nominal
2. Klausaadjektival
3. Klausa numeral
4. Klausapreposisional                                                                                                                                         






2.2.2 Jenis-jenis klausa dipandang dari berbagai segi(Tarigan, 2009:94).

klausa dipandang dari segi
distribusi unit
jenis kata predikat
struktur internal
hubungan aktor aksi
fungsi
bebas
verbal
transitif
aktif

pasif
media
resiprokal
intransitif

non-verbal
statif

ekuasional
terikat




nominal
adjektival
adverbial



            Klasifikasi klausa (Arifin, 2008: 34)


 



Flowchart: Alternate Process: Berdasarkan  FungsiFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan Distribusi SatuanFlowchart: Alternate Process: Berdasarkan  Struktur                                                           
                                                                                                                            









 

Flowchart: Alternate Process: Menduduki fungsi:
1. Subjek
2. Objek
3. Keterangan
4. BerpelengkapFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa bebas
2. KlausaterikatFlowchart: Alternate Process: Klausa nonverbalFlowchart: Alternate Process: Klausa verbal                                                                                                                                         
                                                                                                                 






 

Flowchart: Alternate Process: 1. Klausa aktif transitif
2. Klausa aktif tak transitif
2. Klausa PasifFlowchart: Alternate Process: 1. Klausa nominal
2. Klausaadjektival
3. Klausa numeral
4. Klausapreposisional                                                                                                                                         




2.3  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Distribusinya
Berdasarkan  distribusi unitnya, klausa diklasifikasikan atas klausa bebas, dan klausa terikat (Cook melalui Tarigan ,2009: 76).
Sedangkan menurut Arifin (2008: 34), berdasarkan distribusi satuannya, klausa dapat dibagi menjadi klausa bebas dan klausa terikat.

 2.3.1 Klausa Bebas
Klausa bebas dalam kalimat majemuk subordinatif disebut klausa atasan, dan klausa terikat disebut klausa bawahan (Chaer,2009:161). Disebut klausa bebas jika unsur-unsur fungsinya lengkap dan jika diberi intonasi final dapat menjadi kalimat. Sedangkan  klausa terikat unsur-unsur fungsinya tidak lengkap.
            Klausa Bebas adalah klausa yang mampu berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna, tidak menjadi bagian yang terikat pada klausa yang lain (Sukini, 2010:44).
            Arifin (2008: 34) mengatakan bahwa klausa bebas adalah klausa yang berpotensi menjadi kalimat lengkap.
Contoh :
a.       mari bernyanyi
b.      Universitas PGRI memperhatikan minat mahasiswa
c.       jangan bersuara
d.      ayah membuat layang-layang
e.       saya akan datang

2.3.2  Klausa Terikat
Klausa terikat adalah klausa yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna, dan  menjadi bagian yang terikat dari konstruksi yang lain (Sukini, 2010:44).
Cook melalui Tarigan (2009: 52) menjelaskan bahwa Klausa terikat adalah klausa yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna; hanya mempunyai potensi sebagai kalimat tak sempurna.
Arifin (2008: 34) mengatakan bahwa klausa terikat adalah klausa yang tidak berpotensi menjadi kalimat lengkap, tetapi hanya berpotensi menjadi kalimat minor.
Dari ketiga pendapat tersebut yang menjadi kesepakatan dalam batasan klausa terikat adalah potensinya tidak akan menjadi kalimat sempurna dan tidak dapat berdiri sendiri.
Contoh :
a.       meskipun telah mengumpulkan makalah...
b.      jika hanya menyalin...
c.       biarpun kecil...
d.      karena hari sudah malam...
e.       ...kalau diundang

2.4  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Ada Tidaknya Unsur Negasi pada Predikat
Berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa positif, dan klausa negatif (Ramlan melalui Sukini, 2010:45).

2.4.1 Klausa Positif
Klausa positif  ialah klausa yang tidak memiliki kata negasi/pengingkaran pada fungsi Predikat.
Contoh:
a.       mereka diliputi oleh perasaan senang
b.      mertua itu sudah dianggap sebagai ibunya
c.       pak ketua hadir hari ini
d.      Lili seorang penari
e.       orang tuanya masih ada
f.       yang dicari hanya dia



2.4.2  Klausa Negatif
Klausa negatif ialah klausa yang predikatnya memiliki unsur negasi. Unsur negasi adalah unsur yang mengandung pengingkaran, seperti kata tidak, tak, bukan, tiada, belum, dan jangan.
Contoh:
a.    orang tuanya sudah tiada
b.   yang dicari bukan dia
c.    pak ketua tidak hadir hari ini
d.   tak seorangpun  yang mau
e.    mertua itu masih belum dianggap sebagai ibunya
f.    mereka bertanding tanpa pelatih

2.5  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Kategori Pengisi Fungsi Predikat
Berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa verbal, dan klausa nonverbal (Cook melalui Tarigan, 2009:76).
Sedangkan menurut Arifin (2008: 38), berdasarkan strukturnya, klausa dapat dibedakan menjadi klausa verbal dan klausa nonverbal.
Menurut Chaer (2009: 151), berdasarkan  kategori pengisi fungsi P dapat dibedakan adaanya: klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektifal, klausa preposisional, klausa numeral.
Dalam pembahasan ini klasifikasi klausa berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat terdiri dari klausa verbal dan klausa nonverbal. Klausa verbal terbagi menjadi klausa transitif  dan klausa intransitif. Klausa transitif berdasarkan hubungan aktor aksi,diklasifikasikan menjadi klausa aktif, klausa pasif, klausa medial dan klausa resiprokal. Klausa nonverbal terdiri atas klausa nominal, adjektival, numeral, dan preposisional.



2.5.1 Klausa Verbal
Klausa Verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori kata kerja (Sukini, 2010:46). Klausa Verbal adalah klausa yang berpredikat verbal (Tarigan, 2009:77).
Arifin (2008: 38) mengatakan bahwa klausa verbal adalah klausa yang predikatnya verba.
Jadi klausa verbal memiliki predikat yang berupa kata kerja.
Contoh:
a. petani mengerjakan sawahnya dengan tekun
b. dengan rajin, bapak guru memeriksa karangan murid
c. mereka memancing di sungai
d. kita  menyanyi  bersama
e. adik menangis
f. kami bermain bola

Berdasarkan struktur internalnya, klausa verbal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu klausa transitif  dan  klausa intransitif (Tarigan, 2009:77).
Menurut Arifin (2008: 38), klausa verbal terdiri atas klausa verbal aktif transitif dan klausa verbal aktif tak transitif.

2.5.1.1 Klausa Transitif 
Klausa transitif  adalah klausa yang mengandung kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang menghendaki hadirnya objek(Sukini, 2010:46).
Menurut (Tarigan, 2009:44), Klausa transitif  adalah klausa yang mengandung kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang mempunyai kapasitas memiliki satu atau lebih obyek.
Contoh:
a. Rudi mengagumi Yuli
b. ayah membelikan adik sepatu roda
      
Klausa transitif  jika dilihat dari hubungan aktor aksi, dapat pula diklasifikasikan menjadi klausa aktif, klausa pasif, klausa medial dan klausa resiprokal (Tarigan, 2009:77).
Selanjutnya (Tarigan, 2009:77) menjelaskan dan memberi contoh:
1)            Klausa Aktif
Klausa aktif  adalah klausa yang subyeknya berperan sebagai pelaku atau aktor.
Arifin (2008:38) menjelaskan bahwa klausa aktif transitif adalah klausa yang predikat verbalnya mempunyai sasaran dan/ atau mempunyai objek. Verba yang menjadi predikatnya berimbuhan meng-, meng-/-I, atau meng-/-kan.
Contoh:
a.       Ayah melihat saya menulis surat
b.      saya melarang kamu mencangkul kebun itu
c.       ibu menyuruh dia memanggil nenek
d.      siapa menyaksikan ibu makan nasi itu
e.       dokter menganjurkan ayah minum kopi
f.       bibi menjual makanan
g.      aku mengirimkan surat
h.      anak-anak memetiki mangga

2)            Klausa Pasif
Klausa pasif adalah klausa yang subyeknya berperan sebagai penderita.
Arifin (2008:39) menjelaskan bahwa klausa verbal pasif adalah klausa yang menunjukkan bahwa subjek dikenai pekerjaan atau sasaran perbuatan seperti yang disebutkan dalam predikat verbalnya. Verba yang menjadi predikatnya berimbuhan di-,ter-, atau ber-/-an, atau diawali kata kena.





Contoh:
a.       ayah tahu benar  surat itu kutulis
b.      saya tidak mau tahu kebun itu kau cangkul
c.       kenapa kamu melarang  nenek dipanggil oleh adik
d.      semua tahu  nasi itu di makan ibu
e.       saya melihat sendiri  kopi itu diminum oleh ayah 
f.       kurban ditembak kami kehujanan
g.      kakak bercukur kurban tertembak
h.      melarikan diri
i.        menghindarkan diri
j.        melepaskan diri
k.      memperkaya diri

3)            Klausa Medial
Klausa medial adalah klausa yang subyeknya berperan baik sebagai pelaku maupun penderita.
Contoh:
a.         dia menghibur hatinya
b.      dia menyiksa dirinya
c.         kamu menyusahkan dirimu melulu
d.      aku menusuk jariku
e.         aku merenungi nasibku
f.         aku menenangkan pikiranku
g.      si Ani mengamati wajahnya sendiri

4)            Klausa Resiprokal
Klausa Resiprokal atau klausa refleksif adalah klausa yang subyek dan obyeknya melakukan perbuatan yang berbalas-balasan (Tarigan,2009: 49).


Contoh:
a.       saya tidak suka kalau kalian baku hantam dengan mereka
b.      ayah menganjurkan agar kami saling mengasihi dengan saudara
c.       paman menyuruh saya bersalam-salaman dengan tamu
d.      tetangga, sering mendengar Mak Ali saling caci dengan Mak Ina
e.       tahukah kamu bahwa keluarga saya sering berkunjung-kunjungan dengan keluarga mereka
f.       dalam Koran dapat dibaca bahwa baku serang antara Palestina dengan Israel sudah mereda

2.5.1.2  Klausa Intransitif 
Klausa Intransitif  adalah klausa yang predikat verbalnya  tidak  memerlukan kehadiran objek (Sukini, 2010:47).
Cook melalui Tarigan (2009: 49) menjelaskan bahwa klausa intransitif  adalah klausa yang mengandung kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang tidak memerlukan obyek.
Contoh:
a. para siswa berbaris di lapangan
b. matahari terbit di timur
c. ayah pergi ke sawah
d. ibu tinggal di rumah
e. adik bermain-main di pekarangan
f. nenek tidur di kamar
g. kakek duduk di kursi






2.5.2  Klausa Nonverbal    
           Klausa nonverbal adalah klausa yang predikatnya berkategori selain kata kerja. Unsur pengisi fungsi P yang tidak berkategori verbal, antara lain nominal, adjektival, numeral, dan preposisional (Sukini, 2010:46).
           Sementara itu Tarigan (2009:50) memberikan batasan bahwa klausa nonverbal adalah klausa  yang  berpredikat nomina, ajektif, atau adverbia. Klausa nonverbal ini dapat pula dibagi atas: klausa statif dan klausa ekuasional.

2.5.2.1 Klausa nominal
Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berkategori kata benda.
Elson dan Pickett melalui Tarigan (2009: 51) mengatakan bahwa klausa ekuasional adalah klausa yang berpredikat nomina.
Contoh:
a. saudaranya guru
b. yang dibeli orang itu sepeda
c. nenekku dukun
d. pamannya pedagang
e. adiknya dokter
f. atap rumah itu daun rumbia
g. isteriku guru

2.5.2.2 Klausa Adjektival
Klausa adjektival adalah klausa yang predikatnya berkategori kata keadaan.
Elson dan Pickett melalui Tarigan (2009: 51) mengatakan bahwa klausa statif adalah klausa yang berpredikat ajektif atau yang dapat disamakan dengan ajektif.
Chaer (2009: 158) mengatakan bahwa klausa ajektifal memiliki fungsi wajib S dan P. Klausa ajektifal dapat disusun dari fungsi S yang berkategori N dan fungsi P yang berkategori A.

Contoh:
a. harga buku sangat mahal
b. udaranya panas sekali
c. anak itu pintar
d. neneknya kaya
e. mereka capek

2.5.2.3 Klausa Numeral
Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berkategori kata bilangan.
Chaer (2009: 160) mengatakan bahwa klausa numeral adalah klausa yang fungsi P nya diisi oleh frase numeral.
Contoh:
a. roda truk itu  enam
b. kerbau petani itu dua ekor
c. gajinya dua juta sebulan
d. uangnya seratus ribu rupiah
e. anak pak Amat lima orang
f. mobil pejabat itu empat buah
g. luas kebunnya seribu meter
            Klausa numeral lazim digunakan bahasa ragam lisan dan ragam bahasa nonformal. Dalam ragam formal fungsi P akan diisi oleh sebuah verba; dan frase numeral berubah fungsi menjadi keterangan.
Contoh:
a. roda truk itu ada  enam
b. kerbau petani itu hanya dua ekor
c. gajinya ada dua juta sebulan
d. uangnya sebesar seratus ribu rupiah
e. anak pak Amat berjumlah lima orang
f. mobil pejabat itu ada empat buah
g. luas kebunnya mencapai seribu meter

2.5.2.4 Klausa Preposisional
Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berkategori kata depan.
Chaer (2009: 159) mengatakan bahwa klausa preposisional adalah klausa yang fungsi P nya diisi oleh frase preposisional.
Contoh:
a. pegawai itu ke kantor setiap hari
b. kakak di kampus
c. ibu dan ayah ke pasar
d. mereka dari Medan
e. ayah dan kakek di kampung
f. uangnya di bank
g. berangkatnya dari rumah
           Klausa preposisional ini lazim digunakan dalam bahasa ragam lesan dan ragam bahasa nonformal. Dalam ragam formal fungsi P akan diisi oleh sebuah verba; dan frase preposisinya  berubah fungsi menjadi keterangan.
Contoh:
a. pegawai itu pergi ke kantor setiap hari
b. kakak ada di kampus
c. ibu dan ayah berangkat  ke pasar
d. mereka ampon dari Medan
e. ayah dan kakek berada  di ampong
f. uangnya disimpan  di bank
g. berangkatnya berawal dari rumah
           
2.6  Klasifikasi Klausa Berdasarkan  Fungsi
Berdasarkan fungsinya, klausa ternyata dapat menduduki fungsi subjek, objek, keterangan, dan pelengkap (Arifin, 2008: 34).


2.6.1 Subjek
Arifin (2008: 35) menjelaskan dan memberi contoh bahwasanya subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frase nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara (penulis). Di dalam bahasa Indonesia, subjek biasanya mendahului predikat.
contoh:
a. berlibur kami sekeluarga
b. berenang itu menyehatkan
            Kedua klausa itu disebut klausa inti karena terdiri atas subjek (kami sekeluarga, berenang itu)serta predikat (berlibur, menyehatkan). Kedua klausa itu dapat menjadi inti kalimat, yang bagian-bagiannya juga tetap menduduki fungsi subjek dan predikat, seperti:
a. Kami sekeluarga bulan yang lalu berlibur di Bali.
b. Berenang itu ternyata dapat turut menyehatkan fisik dan mental.

2.6.2 Objek
Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frase nominal yang melengkapi verba transitif. Objek dikenai perbuatan yang disebutkan dalam predikat verbal. Objek dapat dibagi menjadi objek langsung dan objek tak langsung.
            Objek langsung adalah objek yang langsung dikenai perbuatan yang disebutkan dalam predikat verbal; objek tak langsung adalah objek yang menjadi penerima atau diuntungkan oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal.
Contoh:
a. bibi sedang menanak nasi
b. ibu membawa minuman
Nasi pada contoh diatas merupakan objek bagi verba menanak dan minuman menjadi objek bagi verba membawa.
Contoh objek taklangsung:
a. bibi sedang menanakkan nasi untuk kita semua
b. ibu membawakan minuman untuk Ayah
            Kita semua objek taklangsung bagi verba menanakkan, sedangkan untuk Ayah objek taklangsung bagi verba membawakan.

2.6.3 Klausa Keterangan
            Arifin (2008: 36-37) menjelaskan dan memberi contoh bahwasanya klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti, yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau makna predikat.
Contoh:
a. keterangan akibat: penjahat itu dihukum mati
b. keterangan sebab: karena sakit, ia tidak jadi ikut
c. keterangan jumlah: bagai pinang dibelah dua
d. keterangan alat: dinaikkan dengan mesin pengangkat
e. keterangan cara: diterima dengan baik, disetujui dengan musyawarah
f. keterangan kualitas: berlari bagai kilat, menggelegar seperti guntur
g. keterangan modalitas: tidak mungkin itu terjadi, mustahil ia berbohong
h. keterangan pewatas: keterangan lebih lanjut, diceritakan lebih detail
i. keterangan subjek: guru yang baik, rumah yang bersih, anak yang rajin
j. keterangan syarat: tolonglah kalau kau bisa, angkatlah jika kuat
k. keterangan objek: mencari pengusaha yang jujur, menjadi isteri yang baik
l. keterangan tujuan: bekerja untuk hidup, makan demi kesehatan
m. keterangan tempat: datang dari Barat, pergi ke Lampung
n. keterangan waktu: ditunggu sampai besok pagi, berangkat masih subuh
o. keterangan perlawanan: meskipun lambat, selesai juga dikerjakannya
catatan: kata-kata yang dicetak miring berfungsi sebagai keterangan.






2.6.4 Klausa Pelengkap
            Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina, frasa nominal, adjektiva, atau frase adjektival yang merupakan bagian dari predikat verbal.
Contoh:
a. abangku menjadi pilot
b. kami bermain bola
c. aku dianggap patung
d. persoalan itu dianggap sepi
e. adik menari Bali
f. Paman berdagang kain
g. negara kita berdasarkan Pancasila
Kata-kata yang dicetak miring berfungsi sebagai pelengkap.


















III. Simpulan
            Klausa merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa atau gabungan kata itu berpotensi menjadi kalimat.     Klausa memiliki ciri-ciri:
a.       merupakan deretan kata yang merupakan satuan gramatik,
b.      meliliki hanya satu predikat,
c.       mengandung unsur S P (O) (PEL) (KET),
d.      belum memiliki intonasi atau tanda baca tertentu.
            Dalam bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam klausa. Masing-masing ahli bahasa memiliki perbedaan dalam membuat klasifikasi tentang klausa, tergantung pada sudut pandangnya.
            Berdasarkan  kelengkapan  unsur intinya, klausa diklasifikasikan atas klausa lengkap, dan klausa tak lengkap , berdasarkan  struktur internalnya klausa dibedakan atas  klausa berstruktur runtut dan klausa berstruktur inversi, berdasarkan  distribusinya, klausa diklasifikasikan atas klausa bebas, dan klausa terikat, berdasarkan  ada tidaknya unsur negasi pada predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa positif, dan klausa negatif, berdasarkan  kategori pengisi fungsi predikat, klausa diklasifikasikan atas klausa verbal, dan klausa nonverbal.
            Pengklasifikasian klausa dari berbagai segi, dapat menghasilkan berbagai macam klausa.










DAFTAR PUSTAKA


Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono.    
          2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, (Edisi III,cet. ke-6). Jakarta: Balai
          Pustaka.
Arifin,Zaenal, Juniah H.M.2008. Sintaksis Bahasa Indonesia.Jakarta: Grasindo.
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Sukini. 2010. Sintaksis Sebuah Panduan Praktis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Sintaksis. Bandung:Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 2009.Prinsip-prinsip Dasar Sintaksis. Bandung:Angkasa.



 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar